Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam & Kesehatan

Mengubur janin di halaman

Bisakah bayi dimakamkan di halaman dekat rumah, bukan di pemakaman Muslim?

Jawaban:

Bismillaah, wa-l hamdu lillaah, wa-sh shalaatu wa-s salaamu alaa man laa nabiyya ba'dah, ammaa ba'du …

Ada dua kemungkinan bagi janin almarhum.

Kemungkinan pertama Dia meninggal di bawah 4 bulan. Oleh karena itu, janin seperti itu tidak setara dengan hukum mayat Muslim, yaitu, ia tidak mandi, tidak dikfani, tidak ada pelapis dan dapat dikubur di mana saja. Itu karena roh tidak ditiup, jadi dia tidak bisa dikatakan manusia.

Kemungkinan kedua Dia wafat pada usia 4 bulan (120 hari) ke atas, dan kemudian arwahnya terhempas, sehingga ia adalah manusia dan hukumnya seperti tubuh umat Islam lainnya. Artinya, ia harus dicuci, dikfani, tidak selaras, dan kemudian dimakamkan.

Adapun lokasi pemakaman Muslim, para sarjana sepakat bahwa hal utama adalah menguburnya dengan Muslim lain di pemakaman Muslim. Mereka juga sepakat bahwa umat Islam tidak harus dimakamkan di kuburan pagan.

Adapun apakah itu dimakamkan di rumah atau halaman rumah, yang relevan dengan hukum adalah perselisihan antara sarjana. Ulama Hanafiyyah menghukumnya dengan makruh (lihat: Fath al-Qadiir), sementara Ulama Malikiyyah, Syafi'i dan Hanabilah menghukumnya dengan mubah, tetapi masih lebih banyak penguburan bersamanya Penting (lihat: Hassyiyah ad-Dasuuqi ala asy- Syarh al-Kabiir, Mugni al-Muhtaaj, Al-Majmuu dan Al-Mugni).

Opini yang kuat-Ilmu Dinding-Pendapat pertama adalah bahwa hukum untuk mengubur mayat di rumah atau halaman adalah makruh, seperti Ulama & # 39; Hanafiyyah, beberapa Syafi & # 39; iyyah Ulama dan Hanabilah (lihat: Al-Inshaaf dan Al- Furuu & # 39;), dan pendapat ini juga dipilih oleh Ibn Hajar (lihat: Fath al-Baarii) -rahimahumullaah jamii & # 39; an-.

Pemilihan didasarkan pada:

Kata-kata nabi-Shallallaahu alayhi wa sallam-:

"Kamu tidak bisa mengubah rumah menjadi kuburan …" [HR. Bukhari dan Muslim]

Ibn Hahar-Rahimura-Katakan:

'Bahwa mematuhi larangan penguburan mayat di rumah-sebenarnya ditunjukkan oleh hadits, karena jika mayat terus dimakamkan di rumah, suatu hari rumah itu akan menjadi seperti kuburan, dan karena itu memiliki kewajiban untuk berdoa kepadanya … & # 39; [Lihat: Fath al-Baari]

Kebiasaan RasulullahShallallaahu alayhi wa sallam-Makamkan teman-teman dan Muslim di pemakaman mereka Demikian seterusnya, hingga usia teman, hingga hari ini. [Lihat: Majmuu’ Fataawa wa Rasaa’il Al-Utsaimiin]

Memegang pemakaman di rumah mengganggu ahli waris yang nantinya akan tinggal di rumah dan dapat berdampak buruk pada mereka atau menyulitkan mereka untuk menjual rumah. [Lihat: Majmuu’ Fataawa wa Rasaa’il Al-Utsaimiin, Al-Mughni, dan At-Taaj wa al-Ikliil]

Pemakaman di rumah dapat bertindak sebagai perantara bagi Tuhan-Azawajala-Larang, seperti berdoa kepadanya, berdoa atau berdoa kepadanya. [Lihat: Majmuu’ Fataawa wa Rasaa’il Al-Utsaimiin]

Ketika seseorang dimakamkan di rumah dan mereka berziarah ke kuburan Muslim, mereka akan kehilangan keutamaan Muslim untuk berdoa baginya. [Lihat: Al-Mughni]

Dan beberapa alasan lain disebutkan oleh para sarjana.

Wallaahu ta "aala A" laa wa A & # 39; lam, wa-sh sholaatu wa-s salaamu alaa nabiyyinaa Muhammad. Semoga uraian di atas akan menjawab pertanyaan Anda.

****

Jawaban dari Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (seorang mahasiswa Sekolah Hadits Universitas Islam Madinah)

Anda dapat membaca artikel ini melalui aplikasi Ask Ustadz untuk Android.
Unduh sekarang!

Dukung Yufid dengan menjadi sponsor dan donor.

  • Akun donasi : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. Jaringan YUASAN YUFID
  • Konfirmasikan donasi Hubungi: 087-738-394-989

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here